Wakil Mahkamah Agung (MA) mendapatkan gelar kehormatan Kanjeng Raden Aryo Tumenggung (KRAT) oleh keraton
solo | pa-surakarta.go.id
Hubungan kekerabatan antara Keraton Surakarta de ngan Madura yang lama putus sejak terjalin erat di tahun 1600-an, Minggu malam (13/5) seakan tersambung kembali dalam simbol tari Srimpi Ludiramadu. Dalam sebuah resepsi di gedhong Sasana Handrawina, kompleks Keraton Surakarta, Wakil Mahkamah Agung (MA) Dr H Ahmad Kamil SH MHum mendapatkan gelar kehormatan Kanjeng Raden Aryo Tumenggung (KRAT) oleh keraton, yang diserahkan GKR Wandansari Koes Murtiyah.
Penyerahan kekancingan atau SK tentang gelar, pangkat dan sesebutan sebagai kerabat kehormatan malam itu, digelar dalam sebuah acara sederhana yang khas keraton. Meskipun, sekitar seratusan hakim dari pengadilan negeri dan pengadilan tinggi sejumlah daerah yang mengikuti Wakil MA malam itu, hanya mengenakan busana batik. Penyerahan kekancingan kepada tokoh berdarah bangsawan Madura keturunan Arya Wiraraja (Majapahit) malam itu, memang tidak dalam format upacara wisudan yang biasanya mengirigi upacara adat tingalan jumenenganatau ulang tahun tahta ''raja''. Namun, tata cara yang dilakukan justru lebih longgar, meski tetap dalam batas-batas kerangka upacara adat.
Yang jauh lebih penting dari peristiwa malam itu, adalah tersambungnya kembali tali silaturahmi kekerabatan antara Madura dan Keraton Surakarta. Karena sejarah telah mencatat, Sinuhun Paku Buwono IV adalah menantu KP Adipati Tjakraningrat dari Kadipaten Sumenep (Madura), yang kemudian menurun Sinuhun Paku Buwono V, VI dan VII.
''Jadi, ini bukan hal dibuat-buat. Sejarah sudah mencatat adanya hubungan persaudaraan dan kekerabatan antara Keraton dengan Madura. Kini tersambung kembali,'' jelas KP Winarno Kusumo selaku Wakil Pengageng Sasana Wilapa, yang malam itu menjadi juru pranatacara (MC) resepsi.
Selain simbol realitas sejarah dan pertautan kembali ''anak sejarah'' itu, resepsi penyerahan kekancingan juga diiringi dengan doa wilujengan yang dipimpin ulama dalem KRT Pujo Sriyonodipuro. Gending-gending penyambutan yang dikumandangkan dari gamelan Kiai Lokananta (PB IV), juga membahana sejak para tamu masuk ruangan, menyantap menu makan malam hingga mengiringi sajian tari Srimpi Ludiramadu karya Sinuhun Paku Buwono IV pula.
Nama tarian yang diciptakan oleh menantu KP Adipati Tja kraningrat itu, mengambil nama Srimpi Ludiramadu yang antara lain untuk melukiskan bahwa hadiah dari Sang Adipati itu berdarah madu, yang berasal dari kata Madura. Manis seperti madu itu pula, sajian tarian yang dibawakan empat penari Sanggar Pawiyatan Kabudayan Keraton malam itu, hingga membuat Dr KRAT Ahmad Kamil beserta istri yang mengenakan busana adat tampak kesengsem.(won-50)
Sumber : http://mcetak.suaramerdeka.com/PUBLICATIONS/SM/SM/2012/05/15/index.shtml
























